
Oleh : YAYUK SULISTYOWATI
Masa remaja merupakan salah satu tahap perkembangan sepanjang rentang kehidupan manusia yang paling unik, penuh dinamika, sekaligus penuh tantangan dan harapan. Pada masa ini terjadi perubahan mendasar pada aspek biologis, kognitif dan sosial. Perubahan pada aspek biologis menunjukkan tanda - tanda kedewasaan seperti organ reproduksi telah bekerja, perubahan bentuk fisik yang semakin menunjukkan ciri jenis fisiknya, dan bentuk tubuh hampir sama dengan orang dewasa.
Perubahan pada aspek kognitif, remaja telah mencapai tahap formal operasional. Pada masa ini remaja mengalami perubahan besar dalam memahami berbagai aspek yang ditemui, menjai kritis dalam melihat dan memberi respon lingkungannya. Remaja menjai sangat resisten terhadap berbagai aspek yang tidak masuk akalnya. Remaja juga telah mampu untuk merumuskan cita - cita masa depannya.
Pada aspek sosiologis, remaja mengalami perubahan dalamhal setting jaringan sosialnya. Jika pada anak, orang tua dan guru menjadi figur iolanya, maka pada masa remaja teman sebaya menggantikan kedudukan itu, sehingga dalam berbagai dimensi remaja lebih mendengar dan mengikuti apa yang menjadi pandangan teman sebaya. Remaja juga merasakan bahwa secara sosial tidak cocok lagi bergabung dengan anak - anak maupun orang dewasa, oleh karena itu ingin membentuk kelompok sendiri yang terdiri dari teman - teman seusianya. Dalam konteks inilah kita dapat memahami fenomena terbentuknya geng di kalangan pelajar.
Akibat terjadinya perubahan - perubahan tersebut, remaja mengalami transisi posisi dan eksistensi antara kanak - kanak dengan dewasa, sehingga menunjukkan sikap dan perilaku yang ambigu. Suatu saat ingin menampilkan dirinya sebagai sosok individu mandiri yang tidak mau ada campur tangan orang tua atau orang dewasa lainnya, sementara disaat yang lain masih ingin mendapatkan perhatian dan pelayanan penuh dari orang tua maupun orang ewasa di sekitarnya. Kadang bersikap dan berperilaku kekanak - kanakan, manja, minta dilayani, pada saat yang lain bersikap dan berperilaku seolah - olah seperti orang dewasa, ingin menunjukkan tanggung jawab, membuat keputusan sendiri tanpa ada intervensi orang tuanya.
Ambiguitas sering pula diterima remaja, yaitu adanya perlakuan tidak konsisten dari pihak luar, baik orang tua maupun orang dewasa lainnya. Kadang remaja dianggap anak kecil, belum boleh tahu dan ikut menyelesaikan persoalan orang dewasa. Tapi pada waktu lain, dituntut menampilkan kemampuan sebagai individu dewasa, mengambil tanggung jawab dan membantu menyelesaikan masalah - masalah orang dewasa, sehingga kondisi ini dapat menimbulkan konflik internal yang menyangkut peran dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Pembentukan identitas diri pada masa remaja merupakan masalah penting. Karena krisis identitas timbul akibat dari konflik internal yang berawal dari masa transisi itu, maka perlu segera mendapatkan solusi yang baik dengan mengelola identitas irinya. Keberhasilan membentuk identitas diri sebagai sosok individu remaja akan sangat membantu untuk mengambil peran yang tepat dalam kehidupannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar