Jumat, November 05, 2010

Selain Bencana Alam, Waspadai Bencana Akidah


Hidayatullah.com—Masyarakat harus mewaspadai “Bencana Akidah” yang kerap terjadi pasca datangnya bencana alam atau krisis yang menimpa masyarakat di negeri ini. Pernyataan ini disampaikan Wakil ketua Umum Pimpinan Pusat Hidayatullah Hamim Thohari, Selasa, (2/11) di Jakarta.

Menurut Hamim, kondisi psikologis masyarakat yang sedang kehilangan keluarga, sanak saudara, dan harta benda menjadi peluang anasir-anasir tertentu untuk menawarkan hal-hal yang merusak aqidah berupa kembali kepada keyakinan-keyakinan lama.

“Seringkali dalam kondisi serba kekurangan dan kehilangan orang yang dicintai, masyarakat mudah terbujuk praktek-praktek merusak Aqidah berupa kembali kepada keyakinan lama,” ujar Hamim pada hidayatullah.com.

Praktek-praktek yang merusak aqidah, ujarnya, umumnya adalah praktek-praktek takhayul, bid’ah dan khurafat yang dibalut jargon-jargon indah ‘kearifan lokal’. Di mana jargon tersebut menjadi alat pembenar melakukan tindakan menjurus kesyirikan seperti sajenan, berdoa pada benda keramat, dan keyakinan pada leluhur.

“Pihak-pihak tertentu menipu kita dengan istilah memelihara ‘kearifan lokal’ yang ternyata menjadi pintu perbuatan syirik,”ungkap Hamim Thohari di kantornya Jl.Cipinang Cempedak, Jakarta.

Pihak-pihak yang menawarkan keyakinan bathil ini tidak bisa dianggap ringan,karena mereka didukung oleh kekuatan besar yang mengkampanyekan paham liberal dan pluralisme melalui jaringannya di Indonesia.

“Kegiatan-kegiatan merusak aqidah ini banyak disokong kekuatan-kekuatan Barat, dan intelektual yang kebarat-baratan atas nama ‘kearifan lokal’ itu,” ujarnya.

Dalam situasi krisis dan bencana yang terus-menerus menimpa bangsa Indonesia, Ia berharap masyarakat dapat bertindak dan bersikap dengan benar dan tepat dengan kembali keajaran Islam sehingga tidak terjebak praktek yang merusak akidah.

“Saya menghimbau kepada masyarakat agar bersabar dan kembali kepada Allah dalam menghadapi musibah,” paparnya.

Harapan ini juga ia tujukan kepada masyarakat Mentawai yang mualaf dan masyarakat sekitar Merapi yang masih abangan agar bersabar serta tidak terjebak keyakinan berbau khurafat,” tambahnya.

Rabu, Oktober 27, 2010

Gunung Merapi Meletus, Mbah Marijan Meninggal


Status siaga gunung merapi ditingkatkan menjadi awas merapi, karena situasi gunung yang tidak menentu dan bisa meletus kapan saja dengan daya letusan diperkirakan 5 kali lipat dari letusan tahun 2006 yang lalu, ternyata gunung merapi memang betul betul meletus, mengeluarkan asap tebal membumbung tinggi ke udara yang biasa dikenal dengan istilah wedus gembel, sehingga letusan hari selasa kemarin 26 oktober 2010 memporak – porandakan warga sekitar gunung merapi. Hingga berita ini diturunkan korban tewas mencapai 25 orang termasuk mbah marijan.
Juru Kunci Gunung Merapi Mbah Maridjan akhirnya ditemukan tewas oleh tim penyelamat yang diterjunkan sejak Rabu (27/10) dinihari. Jasadnya sekitar pukul 06.05 berhasil dievakuasi dari lereng Gunung Merapi tepatnya di Desa Kinahrejo Kecamatan Cangkringan, Sleman atau berjarak sekitar 6 km dari puncak Merapi.

Keterangan yang dihimpun dari berbagai media cetak dan elektronik, jenasah Mbah Maridjan ditemukan dalam kondisi sujud di dalam kamarnya. Ia masih mengenakan baju batik, kopiah warna putih serta sarung. Diduga saat bencana wedhus gembel datang yang bersangkutan sedang shalat.

Kabag Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito, Heru Trisno Nugroho membenarkan salah satu jenasah yang dikirim ke rumah sakitnya adalah Mbah Maridjan. Bintang iklan yang terkenal dengan kalimat Roso-roso itu dikirim sudah dalam kondisi tidak bernyawa. ‘’Tubuhnya sedang bersujud,’’ kata Heru

Senin, Oktober 18, 2010

Indonesia Juara Dua Pengguna Facebook


TEMPO Interaktif, Jakarta – Jumlah pengguna Facebook di Indonesia menduduki posisi kedua terbanyak di dunia, menggeser Inggris dengan selisih 137.800 pengguna.

Dikutip dari situs checkfacebook, kini total pengguna situs jejaring sosial itu di Indonesia tercatat 27,953,340 anggota, sementara Inggris sebanyak 27,815,540.

Sejak Agustus lalu, jumlah pengguna Facebook di Indonesia dan Inggris memang tak terpaut jauh. Selisihnya tak sampai satu juga pengguna, dengan catatan Indonesia mencapai 26.277.000 user dan Inggris dengan 27.020.020 pengguna.

Adapun Turki yang pada awal tahun ini bertengger di posisi kedua, kini menempati urutan ke empat, setelah Inggris dengan total 22,943,100 pengguna.

Dari 526,324,680 pengguna Facebook di seluruh dunia, rangking pertama masih “dikuasai” Amerika Serikat dengan lebih dari 140 juta pengguna. Posisi kelima ditempati Perancis (19,378,200 pengguna), diikuti Italy (17,082,420); Kanada (16,958,800); Filipina (16,800,860); Meksiko (15,965,160); dan India (14,310,680).